Anak dan istri adalah ujian

Rate this post

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. [At Tahrim:6].

Anak, selain sebagai perhiasan dan penyejuk mata, juga bisa menjadi fitnah (ujian dan cobaan) bagi orang tuanya. Ia merupakan amanah yang akan menguji setiap orang tua. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 14—15)

 

Para ulama mengatakan tentang tafsir ayat ini dalam beberapa riwayat sebagaimana yang tercantum dalam Al-Jami` li ahkamil Quran-nya Al-Qurtuby.

  1. Ayat ini turun di Madinah kepada seorang laki-laki yang bernama Auf bin Malik Al-Asyja`i. Dia mengadu kepada Rasulullah SAW tentang perilaku anak dan istrinya yang selalu mengalanginya bila berjihad di jalan Allah SWT.

 

  1. At-Thabary menyebutkan dari Atho` bin Yasar bahwa surat At-Taghabun ini semuanya turun di Mekkah, kecuali ayat-ayat ini saja. Yang ini turunnya dalam konteks Auf bin Malik Al-Asyja`i yang punya banyak anak dan istri. Bila dia akan berangkat jihad, mereka menangis dan menggendolinya seraya berkata,”Kepada siapakah kami ditinggalkan ?”. Maka turunlah ayat ini.
    Al-Qadhi Abu Bakar ibn al-Arabi berakta bahwa ayat ini menerangkan tentang kemungkinan adanya musuh di dalam anggota keluarga atau dari pihak istri sendiri. Namun bukan musuh seperti biasanya, tetapi musuh dalam selimut. Karena perbuatannya yang bisa membuat seseorang surut dari perjuangan atau surut dari ketaatan kepada Allah SWT. Dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya dari pada musuh yang mampu memutuskan hubungan mesra antara seseorang dengan tuhannya.
    Dalam kaitan pengertian makna ayat itu, dahulu Nabi Isa as pernah berkata dengan hikmah,”Orang yang dikuasai oleh istri, anak dan hartanya, sesungguhnya sudah menjadi budak keduniaan”.

 

Firman Allah di atas dengan sangat tegas menandaskan, anak bisa menjadi fitnah dunia bagi kita. Ibarat permata zamrud yang wajib kita pelihara. Maka berhati-hatilah, janganlah kita terlena dan tertipu sehingga kita melanggar perintah Allah Azza wa Jalla dan menodai laranganNya. Jangan sampai anak kita menjadi penyebab turunnya murka dan bencana Allah Azza wa Jalla pada diri kita. Allah Azza wa Jalla befirman,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan RasulNya, dan juga janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu padahal kamu mengetahui. Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. [Al Anfal:27, 28].

Tatkala orang tua menghadapi berbagai problem tarbiyah (mendidik dan mengasuh) anak-anak, apa yang harus dilakukan? Siapakah yang berkuasa untuk mengubah berbagai penyimpangan dan kenakalan yang terjadi pada mereka? Berikut ini sebagian prinsip yang harus kita pahami. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala memberi hidayah taufik agar kita berjalan di atasnya.

Dari Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِذَا مَاتَ اْلإنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أوْ عِلْمٌ يَنْتَفِعُ بِهِ أوْ وَلَدٌ صَالحٌِ يَدْعُوْ لَهُ.

Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya.

Mereka meminta kepada Allah agar Allah mengaruniakan kepada mereka istri-istri dan anak-anak yang menjadi penyenang hari mereka. Jika semua istri dan anak musuh, maka tidak akan ada yang menjadi penyenang hati. Karena musuh tidak mungkin menjadi penyenang hati, akan tetapi sesuatu yang dibenci hati. Sebagaimana diketahui, bahwa Ismail dan Ishaq, kedua anak Ibrahim, atau seperti Yahya anak Zakaria dan yang seperti mereka bukanlah musuh.

Semoga ada manfaat yang bias kita ambil dari artikel yang singkat ini, dan semoga kita menjadi orang orang yang termasuk orang yang mampu menjaga amanah ini, atau perhiasan dunia ini…

By Bagas prihantara

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Translate »
Scroll to Top